November 05, 2010

Buat apa Menolong,...?!

Menolong adalah perilaku terpuji yang pasti diajurkan setiap agama. Kegiatan sosial ini sangat bijaksana mengingat kita adalah makhluk monodualisme.  Akan tetapi yang harus diperhatikan sebelum menolong adalah kesiapan kita untuk menghadapi segala peluang yang mungkin terjadi setelah proses tolong menolong ini berakhir. Karena menolong tidak selamanya diakhiri keindahan. oleh kerena itu kita perlu jiwa keikhlasan yang besar untuk terjun pada sebuah masalah yang akan kita tolong.

Menurut KBBI keikhalsan berarti ketulusan hati, kejujuran, dan kerelaan. Sedangkan dalam menolong pun juga ada etika lingkungannya. Sebagai umat beragama kita hanya diperbolehkan menjalin tolong menolong dalam hal kebaikan saja. Setelah itu kita juga harus menelaah apakah pertolongan kita bermanfaat atau tidak. Bermanfaat dalam konteks ini adalah apakah pertolongan kita akan meringankan objek pertolongan ataukah makin menambah kesengsaraan objek tersebut. Kemudian satu langkah terakhir yang perlu  kita tempuh adalah mengukur tingkat kesiapan kita baik sebelum , saat , dan sesudah menolong. Apabila salah satu diantara tadi belum terpenuhi hendaklah urungkan niat kita untuk menolong. Karena mungkin kita menyesal kelak ataupun pertolongan kita sia - sia.

Dengan demikian marilah kita menjadi garda PUAS (Pecinta Umat Alam Semesta) yang selalu menginteraksi alam semesta ini dengan seksama. Jadi apa gunanya kita menolong apabila tanpa suatu keikhlasan. Lebih baik diam daripada menolong tetapi sejatinya mmerugikan. 

-Zakaria Abdur Rahman-

November 03, 2010

Sekolah,...!!! Buat Apa?!

Sekolah  menurut KBBI berarti "bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran". Sedangkan dalam proses belajar dan mengajar tentunya memiliki maksud untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian sekolah memiliki fungsi untuk menimba dan mengembangkan ilmu pengetahuan baik ilmu akademik maupun ilmu nonakademik.

Sebagai seorang pelajar SMA, penulis tentunya juga telah mengenyam pendidikan formal di sekolah selama tidak kurang dari 10 tahun. Banyak pengalaman yang telah dialami penulis dalam hal ini.  Terkadang  penulis merasakan bahwa dunia pendidikan ini tidak menyenangkan. Permana Putra, Solihin : 2009 dalam artikelnya yang berjudul Cara Belajar Individu mengatakan bahwa "Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya."  

Dari kutipan Solihin di atas menunjukan bahwa metode yang diterapkan pada dunia pendidikan yang dialami penulis menemuikan ketidak sesuaian. Ketidak sesuaian ini sesungguhnya dapat di cium gelagatnya secara nyata akan tetapi kurang mendapat tanggapan khusus karena tingkat kesadaran yang rendah.

Penulis menyoroti sistem penmberian nilai di sekolah yang cenderung menimbulkan presepsi pada siswa bahwa nilai adalah segalanya. Memang mendapatkan nilai yang tinggi adalah impian setiap siswa. Banyak siswa yang beranggapan bahwa dengan nilai yang bagus akan mempermudah segalanya. Seperti dari hal kecil yaitu mendapat popularitas hingga hal yang besar yaitu untuk meraih masa depan yang cerah.  Akibatnya praktek kecurangan dalam dunia pendidikanpun menyertai bagaikan pengantin. Ironisnya kecurangan demi kecurangan yang terjadi dianggap sebagai fenomena yang wajar. Korupsi kolusi dan nepotisme dalam dunia pendidikan pun tak dapat dielakan.

Kesalahan presepsi siswa terhadap arti sebuah nilai juga semakin menjadi-jadi ketika metode yang diberikan oleh dewan pengajar kurang pas. Beberapa dewan pengajar kertadang hanya melihat dari segi kuantitasnya saja tanpa menimbang lebih jauh segi kualitas. Contoh kongkritnya saja ketika seorang guru menilai catatan siswa siswinya. Ketika itu seorang guru tentunya akan memberi nilai lebih pada siswa yang memiliki hasil catatan yang lengkap, rapi, dan menarik dibandingkan nilai siswa dengan hasil catatan yang biasa saja bahkan kurang lengkap. Kesimpulan yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah beberapa dewan pengajar belum  menelisik cara belajar individu masing - masing siswanya. Apakah siswa yang memiliki catatan lengkap lebih pintar dengan yang memiliki catatan kurang lengkap? Apakah pemilik nilai 90 lebih potensial dari pada pemilik nilai 65? Belum tentu bukan?. 

Problematika dunia pendidikan ini akan berakibat fatal ketika kita nenginjak era globalisasi. Kelak untuk mendapat kesuksesan kita akan mendapat sebuah pertanyaan "Seberapa kemampuanmu?" bukan "Seberapa nilaimu?" karena kemampuan individu melukiskan sebuah nilai, kan tetapi nilai suatu individu belum tentu melukiskan kemampuannya.

Jadi apa gunanya sekolah dengan biaya yang mahal apabila hanya nenuntut nilai. Perilaku ini hanya akan menghancurkan kita di era yang akan datang. Oleh karena itu dalam menuntut ilmu hendaknya dihayati dengan hati agar berguna bagi diri sendir dan orang lain.

-Zakaria Abdur Rahman-